better late than never

Pada akhirnya seluruhnya adalah urusanku sendiri, walau seluruh manusia di jagat raya ini mendampingiku”

December 15, 2011 7:48 pm

“Di Mana Rumahmu, Nak?

kuntawiaji:

“Sungguh kecewa, sungguh kecewa dan hina, sungguh kecewa, siapa yang mendapatkan ayah ibunya atau salah satu dari keduanya hingga lanjut usia, kemudian ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis.Tapi bolehkah aku sampaikan padamu, Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putra kecil ibu yang lugu.

Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi ibu seorang aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia, Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu, Nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia.


Anakku, kita memang berada di satu atap, Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini di manakah rumahmu, Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau, engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu, Nak, ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasihat yang ibu yakin engkau pasti lebih tahu. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau, Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang sembilan bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku.

 Anakku, ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk, Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati ibu mulai bertanya, Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini, Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menanyakan keadaan adik-adikmu, Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu, Nak?


Anakku, ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat engkau merasa sangat tidak produktif ketika harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang. Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan. Tapi bukankah keluargamu ini adalah tugasmu juga, Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga, Nak?

Anakku, ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu padat, Nak. Ada rapat di sana-sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, di sana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada di sana. Ternyata memang tak ada, Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal, Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahim ibu tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putra kecilku.

Kalau boleh ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh ibu bertanya, Nak, di mana profesionalitasmu untuk ibu? Di mana profesionalitasmu untuk keluarga? Di mana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat?

Ah, waktumu terlalu mahal, Nak. Sampai-sampai ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama ibu.

Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak, dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik, tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. 

(Source: bintangsp)

  1. jsmnutami reblogged this from kuntawiaji and added:
    entah mengapa situasinya mirip sesuai banget. :-‘)
  2. coret-coretpunyabella reblogged this from delinasekarayu
  3. delinasekarayu reblogged this from bintangsp
  4. gyluna reblogged this from kuswardhanansyah
  5. putrinv reblogged this from kuntawiaji
  6. laninalathifa reblogged this from kuntawiaji
  7. sept19th reblogged this from kuntawiaji
  8. kuswardhanansyah reblogged this from kuntawiaji
  9. cumafarah reblogged this from kuntawiaji
  10. shafirameidyana reblogged this from kuntawiaji
  11. marianagustin reblogged this from kuntawiaji
  12. civirily reblogged this from kuntawiaji
  13. ichbinnia reblogged this from kuntawiaji
  14. ajengniajeng reblogged this from kuntawiaji
  15. risalatulamanah reblogged this from kuntawiaji
  16. fhieluv reblogged this from kuntawiaji
  17. ridhobrilliant reblogged this from kuntawiaji
  18. writingnothing reblogged this from bintangsp
  19. dianprasetyaning reblogged this from kuntawiaji
  20. rahmaniari reblogged this from kuntawiaji
  21. namasayaume reblogged this from ayuprissa
  22. nadiyajun reblogged this from thefootsteps
  23. wahyuwibowo21 reblogged this from kuntawiaji
  24. nakoualohakuuipo reblogged this from kuntawiaji and added:
    hampir sukses membuat saya menangis, karena hal ini pula yg Ibu saya katakan pada saya :’( *kurang lebih sama*
  25. rismaulio reblogged this from kuntawiaji
  26. journaloflights reblogged this from kuntawiaji
  27. isnidalimunthe reblogged this from kuntawiaji and added:
    THIS!!!! *the best among you are those who are best for their family and I’m the best of you to my family (Tirmidhî,...
  28. vietnanti reblogged this from kuntawiaji
  29. ireynanda reblogged this from kuntawiaji
  30. youknowulep reblogged this from bintangsp
  31. ulinuha reblogged this from kuntawiaji